Mentari mulai bersinar, Maura segera
bangun dan bergegas pergi sekolah. Ririn yang sudah menunggu didepan rumahnya
memanggilnya agar ia segera keluar. Melihat matahari makin tinggi, ia langsung
menarik tangan Ririn untuk cepat
lari dan tak lupa mengucapkan salam
kepada orang tuanya. Tapi saat diperjalanan wajah Ririn yang selalu ceria terlihat
sedikit pucat.
Maura pun bertanya dengan perasaan hawatir “Rin, kamu kenapa ko’ mukamu pucat?” .
“Nggak kenapa-napa ko, ini paling cuma pucat biasa karena kecapean kemarin pas pergi kerumah nenek” jawab Ririn menutupi penyakitnya itu.
“Tapi benar kamu gak kenapa-napa, lebih baik kita jalan aja biar kamu nggak tambah kecapean!” tawar Maura.
“Iya beneran deh nggak kenapa-napa, udah nggak usah hawatir nanti telat loh, udah jam segini nih !” jawab Ririn sambil mengalihkan pembicaraan.
“Yaudah ayo, kita cepat jalan biar nggak telat” balas Maura.
Maura pun bertanya dengan perasaan hawatir “Rin, kamu kenapa ko’ mukamu pucat?” .
“Nggak kenapa-napa ko, ini paling cuma pucat biasa karena kecapean kemarin pas pergi kerumah nenek” jawab Ririn menutupi penyakitnya itu.
“Tapi benar kamu gak kenapa-napa, lebih baik kita jalan aja biar kamu nggak tambah kecapean!” tawar Maura.
“Iya beneran deh nggak kenapa-napa, udah nggak usah hawatir nanti telat loh, udah jam segini nih !” jawab Ririn sambil mengalihkan pembicaraan.
“Yaudah ayo, kita cepat jalan biar nggak telat” balas Maura.
“Kring..kring..kring” bell sekolah berdering, Maura dan Ririn
bernapas lega sesampainya di kelas. Hampir saja mereka telat dan gerbang
sekolah hampir ditutup. Saat pelajaran sudah dimulai cukup lama, tiba-tiba
hidung Ririn mengeluarkan darah.
“Rin, hidung kamu ngeluarin darah ! “
seru Maura. “ hah darah,, udah gak usah hawatir nanti juga hilang” jawab Ririn yang pura-pura kaget dan berusaha
untuk menahan sakitnya.
Maura yang melihat keadaan Ririn merasa ada yang ganjil dengan penyakit
Ririn itu karena dari seminggu yang lalu Ririn seperti itu dan setahunya
kalau kurang enak badan atau kecapean
biasanya 1/2 hari sudah sembuh. Saat jam istirahat tiba, Maura menanyakan
penyakit Ririn yang sudah ingin ia tanyakan dari tadi.
“Rin,sebenarnya kamu sakit apa sih? Sejak seminggu lalu kamu sering sakit begini” tanya Maura penasaran.
“Paling Cuma pusing dan mimisan biasa ko” Jelas Ririn kepada Maura.
“Gak mungkin pusing dan mimisan biasa, pasti bukan itu” kata Maura yang semakin penasaran itu.
“Iya beneran deh, masa aku bohong sama sahabat aku sendiri” jawab Ririn untuk meyakinkan Maura.
Sebenarnya Ririn di fonis penyakit Tumor di bagian kepalanya yang dideritanya selama 2 tahun dan ia baru mengetahuinya sejak seminggu yang lalu dan itu harus segera dioperasi. Tapi Ririn selalu mencari alasan dan menyembunyikan itu semua setiap Maura bertanya penyakitnya itu.
Bell istirahat pun selesai, dan mereka segera masuk kelas. Saat Ririn masuk kelas tiba-tiba mukanya makin pucat. Tak lama setelah pelajaran dimulai, ia disuruh guru maju kedepan untuk mengerjakan soal, tiba-tiba hidung Ririn mengeluarkan darah lagi dan ia pingsan. “Ririiiiiiin,,” teriak Maura berlari ke arah Ririn. Ririn pun langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.
Setelah bell pulang sekolah berdering, Maura langsung kerumah sakit dimana Ririn dirawat. Ternyata Maura mendapat kabar buruk dari keluarganya Ririn bahwa Ririn mempunyai tumor dikepalanya yang sekarang tumor itu menjadi ganas, dan ia harus segera dioperasi .Maura menangis mendengar berita itu, yang baru diketahuinya itu. Maura pun segera menghampiri Ririn dengan air mata yang berlinang deras dimatanya.
“Rin,sebenarnya kamu sakit apa sih? Sejak seminggu lalu kamu sering sakit begini” tanya Maura penasaran.
“Paling Cuma pusing dan mimisan biasa ko” Jelas Ririn kepada Maura.
“Gak mungkin pusing dan mimisan biasa, pasti bukan itu” kata Maura yang semakin penasaran itu.
“Iya beneran deh, masa aku bohong sama sahabat aku sendiri” jawab Ririn untuk meyakinkan Maura.
Sebenarnya Ririn di fonis penyakit Tumor di bagian kepalanya yang dideritanya selama 2 tahun dan ia baru mengetahuinya sejak seminggu yang lalu dan itu harus segera dioperasi. Tapi Ririn selalu mencari alasan dan menyembunyikan itu semua setiap Maura bertanya penyakitnya itu.
Bell istirahat pun selesai, dan mereka segera masuk kelas. Saat Ririn masuk kelas tiba-tiba mukanya makin pucat. Tak lama setelah pelajaran dimulai, ia disuruh guru maju kedepan untuk mengerjakan soal, tiba-tiba hidung Ririn mengeluarkan darah lagi dan ia pingsan. “Ririiiiiiin,,” teriak Maura berlari ke arah Ririn. Ririn pun langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.
Setelah bell pulang sekolah berdering, Maura langsung kerumah sakit dimana Ririn dirawat. Ternyata Maura mendapat kabar buruk dari keluarganya Ririn bahwa Ririn mempunyai tumor dikepalanya yang sekarang tumor itu menjadi ganas, dan ia harus segera dioperasi .Maura menangis mendengar berita itu, yang baru diketahuinya itu. Maura pun segera menghampiri Ririn dengan air mata yang berlinang deras dimatanya.
“Rin,
kamu jahat banget sama aku, kenapa kamu gak bilang kalau kamu punya penyakit
ini dan kenapa kamu bohong sama aku,, kenapa rin,, kenapa, !” ucap maura
disamping Ririn.
Ririn membalas dengan senyuman dibalik alat bantu oksigennya, “aku hanya gak mau ngerepotin kamu dan melihat kamu sedih dengan kondisi aku yang sekarang” ucap Ririn.
“Tapi gak gini juga caranya, seharusnya kamu cerita ke aku” kata Maura yang kecewa.
“Iya aku minta maaf, udah buat kamu kecewa dan sedih begini” ucap Ririn.
“ Yaudah, sekarang kamu harus kuat dan jangan mudah menyerah! Janjii,,,! ” ucap Maura dengan menunjukkan kelingkingnya ke Ririn . “janjiii,,, ” balas Ririn dengan kelingking yang menggandeng kelingking Maura.
Ririn membalas dengan senyuman dibalik alat bantu oksigennya, “aku hanya gak mau ngerepotin kamu dan melihat kamu sedih dengan kondisi aku yang sekarang” ucap Ririn.
“Tapi gak gini juga caranya, seharusnya kamu cerita ke aku” kata Maura yang kecewa.
“Iya aku minta maaf, udah buat kamu kecewa dan sedih begini” ucap Ririn.
“ Yaudah, sekarang kamu harus kuat dan jangan mudah menyerah! Janjii,,,! ” ucap Maura dengan menunjukkan kelingkingnya ke Ririn . “janjiii,,, ” balas Ririn dengan kelingking yang menggandeng kelingking Maura.
Tak
lama kemudian suster masuk dan membawa Ririn ke ruang operasi. Maura pun menangis dan berdo’a, supaya
operasinya berjalan lancar dan bisa bercanda tawa lagi sama Ririn.
_________________ 6 jam berlalu____________
_________________ 6 jam berlalu____________
Dokter
keluar dan Maura segera menghampiri dokter “ Dok, gimana operasinya dan keadaan
Ririn sekarang?”.
“Alhamdulillah operasi berjalan lancar
dan Ririn tidak apa-apa!”. Maura yang mendengar perkataan dokter, senang dengan
kabar baik itu dan ia menunggu Ririn sadar setelah operasinya itu.
Tak lama kemudian mata Ririn membuka perlahan-lahan dan melihat Maura sudah ada dihadapannya. Maura senang akhirnya Ririn sadar dan keceriaan Ririn mulai terlihat lagi diwajahnya.
Tak lama kemudian mata Ririn membuka perlahan-lahan dan melihat Maura sudah ada dihadapannya. Maura senang akhirnya Ririn sadar dan keceriaan Ririn mulai terlihat lagi diwajahnya.
_ Selesai _ Maaf ya kalau cerpen nya sedikit gak nyambung,, ;p |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||

0 komentar:
Post a Comment